:: To Do, To Have, or To Be? ::

May 7th, 2008 by f3ndee

Pribadi To Do, To Have, atau To Be?

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do).

Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have).

Ada yang giat mencari makna hidup (to be).

Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do.

Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik.

Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Fase kedua, fase to have.

Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya…," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be.

Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri

untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup

Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua…One Love One Soul..!

:: Personal Winning Alphabet ::

May 7th, 2008 by f3ndee

Menurut pakarnya, manusia sukses tidak cuma dari IQ saja. Peran EQ (Emotional Intelligence) pada kesuksesan bahkan melebihi porsi IQ. Seorang pakar EQ bernama Patricia Patton memberikan tips bagaimana kita menemukan dan memupuk harga diri, yang disebutnya alfabet keberhasilan pribadi.

Ayo kita lihat apa maksudnya :

A : Accept. Terimalah diri anda sebagaimana adanya.

B : Believe. Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.

C : Care. Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.

D : Direct. Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.

E : Earn. Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.

F : Face. Hadapi masalah dengan benar dan yakin.

G : Go. Berangkatlah dari kebenaran.

H : Homework. Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.

I : Ignore. Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan.

J : Jealously. Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri.

K : Keep. Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.

L : Learn. Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

M : Mind. Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.

N : Never.Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol.

O : Observe. Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.

P : Patience. Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha.

Q : Question. Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.

R : Respect. Hargai diri sendiri dan juga orang lain.

S : Self confidence, self esteem, self respect. Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri akan membebaskan kita dari saat-saat tegang.

T : Take. Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda.

U : Understand. Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan anda.

V : Value. Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.

W : Work. Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.

X : X’tra. Usaha lebih keras membawa keberhasilan.

Y : You. Anda dapat membuat suatu yang berbeda.

Z : Zero. Usaha nol membawa hasil nol pula.

:: 10 Alasan Kenapa Group Band Anda GAGAL ::

May 7th, 2008 by f3ndee

1. Mereka tidak memiliki tujuan

Jika Anda tidak memiliki tujuan dalam mengembangkan karier, bagaimana Anda bisa mendeteksi sebuah kemajuan? Bisnis musik adalah bisnis yang keras, apalagi jika Anda tidak memiliki panduan yang jelas. Kebanyakan label rekaman, penerbit musik, manajer, produser, pengacara hiburan dan bahkan agensi booking tidak akan mau bekerjasama dengan artis yang belum jelas menentukan arah dan tujuan bagi bandnya. Mereka lebih memilih untuk bekerjasama dengan musisi yang memiliki tujuan jelas dan cekatan.

2. Mereka tidak memiliki perangkat menuju kesuksesan

Berlawanan dengan kepercayaan orang banyak, sebenarnya memang ada sebuah "proses" untuk menjadi musisi professional dan mendapatkan sebuah kontrak rekaman. Industri musik dipenuhi dengan rumor, mitos dan misinformasi yang membuatnya sulit untuk menggoreskan kesuksesan di atasnya. Dengan memahami bagaimana industri musik ini bekerja tentunya dapat menjadi asset yang sangat berharga. Bagian dari "proses" yang di maksud ini termasuk di antaranya adalah penggunaan "perangkat" khusus yang telah menjadi standar dalam ruang lingkup industri musik! Daftar berikut memuat beberapa perangkat wajib yang Anda butuhkan guna mengejar karier yang serius sebagai musisi professional.

PRESS KIT / PROMO PACK

• Sebuah demo kaset/CD yang berisikan 3-5 lagu TERBAIK band Anda. (Kualitas jelas berpengaruh!)

• Biografi artis. (Informasi penting tentang sang artis, termasuk siapa saja mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang sedang mereka kerjakan, dan sebagainya.)

• Daftar lagu (song list). (Seluruh judul lagu yang dibawakan oleh sang artis, milik sendiri atau cover)

• Lirik-lirik lagu. (materi lirik-lirik lagu milik sang artis yang termuat dalam demo mereka.

• Foto artis.

• "Write-ups." (Berbagai kisah menarik atau resensi yang ditulis media cetak tentang sang artis, bisa juga mengenai liputan tentang mereka di radio maupun televisi.)

MAILING LIST

Salah satu faktor terpenting dari kesuksesan Anda adalah dengan membangun, memelihara serta memaksimalkan pemanfaatan mailing list. Milis ini terdiri dari nama-nama dan kontak informasi para penggemar, kontak media, pelaku industri musik dan siapa saja yang memiliki minat yang sama (bisnis dan sebaliknya) dengan Anda (sang artis). Sebuah mailing list dapat menjadi asset yang berharga bagi artis siapa saja apabila mereka memanfaatkannya secara maksimal.

DAFTAR TARGET MEDIA

Pemanfaatan media guna mendukung kemajuan karier Anda merupakan hal yang sangat penting sifatnya. Ini mencakup di antaranya penerbitan- penerbitan industri musik, majalah-majalah, suratkabar, radio, televisi dan internet. Sebuah band atau artis yang sangat berbakat dan secara berkesinambungan melakukan promosi bagi kemajuan kariernya memiliki kesempatan yang besar untuk mendapat "perhatian" untuk dikontrak label rekaman. Pernahkah Anda mendengar orang berkata, "saya nggak pernah lihat dan nggak pernah tahu band mereka." Nah, Anda harus berlawanan dengan komentar tadi! Berusahalah untuk selalu "tampil" sebanyak mungkin di depan banyak orang. Penuhi keingintahuan industri dan khalayak luas dengan aksi band Anda maka dijamin band Anda akan tampil di banyak tempat! Manfaatkan penggunaan media dengan memasang iklan atau beriklan secara gratis, sebarkan rilis pers, write-ups dan resensi, dan kalau bisa usahakan tampil di radio dan juga televisi juga.

3. Mereka tidak memiliki seseorang untuk memandu karier

Salah satu tanggungjawab dari manajer personal adalah untuk membantu artis mengambil keputusan yang berhubungan dengan karier musik mereka. Masalahnya, kebanyakan artis biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk mencari manajemen yang bagus. Biasanya ini terjadi karena kebanyakan manajer yang professional dan berpengalaman, sibuk sendiri dengan klien mereka masing-masing. Karena alasan inilah, banyak musisi yang lantas meminta kawan mereka sendiri untuk menjadi manajer. Yang sering terjadi kemudian, sang teman tadi ternyata justru cenderung menjadi seorang booking agent dibandingkan manajer personal band. (Lebih gampang mencarikan panggung tentunya dibandingkan harus memandu karier musik artis!) Karena "teman-teman" ini sangat awam dengan bisnis musik, mereka terkadang jatuhnya malah sering mempersulit dibanding mempermudah. Jika memang manajer yang Anda cari, maka carilah manajer! Jika teman- teman Anda berniat untuk membantu, mereka bisa menjual tiket di konser atau belajar mengoperasikan lighting! Jangan pertaruhkan karier band Anda di tangan seseorang yang sama sekali tidak memahami cara bekerja bisnis musik apalagi tidak berpengalaman sama sekali di dunia bisnis yang satu ini.

4. Mereka menunggu untuk ditemukan

Jika Anda "menunggu untuk ditemukan," saya punya satu pertanyaan sederhana…

"APA YANG SEBENARNYA YANG KAMU TUNGGU?"

Ini seperti berkata, "Saya sedang menunggu sukses!" Jelas tidak masuk akal! Apa yang dimaksud oleh musisi-musisi ini ketika mereka bilang tengah menunggu untuk ditemukan sebenarnya adalah: "Saya sudah mentok karena benar-benar nggak tahu harus melakukan apa lagi!" Tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu, mulai lakukan sesuatu, SEKARANG! Demand discovery, never wait for it!

5. Mereka kurang berdedikasi

Banyak band yang telah manggung bareng selama lebih dari 10 tahun sebelum akhirnya mendapatkan kontrak rekaman! Itulah dedikasi! Itulah kegigihan! Keuletan seperti itulah yang dapat membawa artis/band ke puncak kesuksesan di bisnis musik. Anda tentu tidak perlu tampil 10 tahun lamanya sebelum "keajaiban" terjadi, namun, bila Anda memiliki dedikasi untuk mengarungi suka- duka dan sukses menghalau segala rintangan yang manghalang, agaknya Anda sudah semakin dekat dengan "keajaiban" tersebut.

6. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan

Oke, berikut ini adalah; "3 Rahasia Besar untuk menjadi Sorang Musisi Profesional dan Mendapatkan Kontrak Rekaman!"

• Asah terus bakat Anda! Latihan, latihan, latihan!

• Didiklah diri Anda dengan berbagai pengetahuan tentang bisnis musik! Jangan sekali-sekali beranggapan kalau Anda mengerti semuanya, cari tahu! Jika Anda berfikir akan tahu dengan sendirinya nanti. Anda benar, memang begitu, tapi ini terjadi setelah Anda tersandung dan jatuh berkali-kali. Jauh lebih pelik dari yang Anda bayangkan! Memang asyik-asyik saja belajar sambil mempraktekannya, tapi jangan sampai belajar dari kesalahan yang terjadi berkali-kali, dong! Ini sangat memakan waktu dan sangat menyakitkan bagi diri Anda sendiri tentunya. Carilah fakta-fakta dan pelajari bisnis ini dengan cara yang benar!

• Promosi, promosi, promosi! Mungkin Anda adalah musisi terhebat atau penyanyi paling sensasional yang pernah ada di planet ini, tapi kalau tanpa di dukung promosi, siapa yang tahu?

7. Mereka lebih banyak punya alasan mengapa mereka tidak bisa dibandingkan mereka bisa!

Banyak musisi yang belum apa-apa sudah memasang banyak penghalang di benak mereka. Hal ini malah membuat mereka jauh dari kesuksesan. Jangan biarkan kekurangan PD merongrong bakat atau karier musik yang telah Anda impi-impikan sejak lama. Ego yang sehat malah dibutuhkan dalam bisnis musik. (seorang ego-maniak tidak mendapat tempat di sini!)

8. Mereka tidak memiliki komitmen jangka panjang

Jika Anda tidak jujur melihat diri Anda sendiri sebagai seorang musisi lebih dari 6 bulan sampai satu atau dua tahun, maka Anda sedang melalui sebuah fase yang bagi kita musisi "beneran" selalu berharap agar Anda MENGHILANG secepatnya! Menjadi seorang musisi adalah kerja keras seumur hidup, bukannya iseng-iseng! Musisi-musisi yang sukses di industri musik tidak sekadar memasukkan jempol kaki mereka untuk memeriksa keadaan air, mereka langsung terjun dengan kepala mereka lebih dahulu dan TIDAK pernah melihat ke belakang lagi! Sekali Anda telah menjadi seorang musisi maka seumur hidup Anda akan terus menjadi musisi!

9. Mereka tidak serius

Jika Anda memperlakukan musik hanya sebagai hobi, maka selamanya ia akan seperti itu! Jika Anda tidak menggiring musik dan band Anda menjadi serius, maka tidak seorangpun yang akan mau serius dengan band Anda! Jika tujuan Anda adalah menjadi musisi professional, Anda harus menampilkan diri Anda dan apa yang Anda lakukan secara professional pula!

10. Mereka tidak berbakat sama sekali

Salah satu alasan terbesar mengapa begitu sulit untuk menembus bisnis musik adalah karena bisnis ini merupakan bisnis yang kompleks. Semua orang kebelet menjadi bintang. Apa yang membuatnya semakin sulit ditembus ternyata karena makin banyak lahir musisi jadi-jadian yang merusak kesempatan bagi musisi-musisi berbakat! Label-label rekaman dibombardir dengan demo-demo "sampah" yang sangat jauh dari standar industri musik. Tidak heran makanya demo-demo ini kemudian langsung berakhir di keranjang sampah walau belum sempat dibuka sama sekali! Ini artinya bagi musisi professional, orang tersebut harus menunggu sampai bagian A&R dari label-label rekaman tersebut selesai menyortir satu-persatu ribuan "sampah" tersebut sebelum akhirnya benar-benar dibuka dan disimak oleh mereka.

Angka Diafrgama

May 7th, 2008 by f3ndee

Salah satu teori dasar fotografi menyebutkan bahwa setiap kali mengecilkan bukaan diafragma satu stop, berarti mengurangi volume cahaya (yang masuk melalui lensa) sebanyak setengahnya. Kebalikannya, bila kita memperlebar bukaan diafragma satu stop, berarti menambah volume cahaya sebanyak dua kali lipat dari sebelumnya. Penjelasannya adalah sebagai berikut

Angka diafragma didapatkan dari perbandingan antara panjang fokus lensa dan diameter permukaan lensa yang berfungsi mengumpulkan cahaya. (f/stop = F/Ø)

Jadi, bila lensa 50 mm mempunyai diameter (diameter = diameter lensa (kaca) bukan diameter dudukan filter) selebar 50 mm maka dikatakan dia mempunyai diafragma f/1 (50 mm : 50 mm). Ini adalah lensa yang sangat kuat mengumpulkan cahaya dan saat ini hanya diproduksi oleh satu produsen kamera (canon).

Dari sini dapat dihitung – memakai lensa normal dengan bukaan maksimum f/1,4 – berapa diameter lensa yang digunakan untuk mengumpulkan cahaya.

50 mm : f/1,4 = 35,7 mm

(pembulatan dari 35,7142857…….)²² 

Bila kita sadari bahwa yang bertanggungjawab mengumpulkan cahaya adalah seluruh luas permukaan lensa yang bersangkutan, hitung-hitungan ini menjadi makin menarik lagi. Masih ingat pelajaran SMP bahwa rumus untuk mencari luas lingkaran adalah sama dengan πr² (pi r kuadrat)? Atau 22/7 kali jari-jari kali jari-jari?

Jadi, bila jari-jari diameter lensa 50 mm f/1,4 adalah 17,85 mm (35,7 : 2) maka luas permukaan lensa tersebut adalah

π x 17,85²

= 3,1415926535897932384626433832795 x 318,6225

= 1000,982105268413896122063591389 mm² (dibulatkan menjadi 1001 mm²) 

Bila diafragma kita kecilkan satu stop menjadi f/2, kemampua mengumpulkan cahya dari lensa yang bersangkutan menjadi turun setengahnya. Dengan diafragma f/2 tersebut, secara virtual diameter lensa tadi “diubah” menjadi 25 mm (50 mm :  f/2). Jari-jari lensa tersebut menjadi 12,5 mm

Luas permukaan (virtual) lensa yang bersangkutan menjadi

π x 12,5²

= 3,1415926535897932384626433832795 x 156,25

= 490,87385212340519350978802863742 mm² (dibulatkan menjadi 491 mm²) 

Mengapa tidak menjadi setengahnya? Bukankah 491 mm² belum setengah dari 1001 mm² ?

Perlu diingat bahwa dalam fotografi terdapat banyak pembulatan dan kompromi. Angka 491 mm² sudah sangat mendekati setengah dari 1000 mm². Lagi pula perbedaan luas 9 mm² akan sangat sedikit perbedaannya dalam hasil pemotretan.

Tetapi, jika anda masih penasaran juga, kita lihat saja mengapa tidak dibuat benar-benar setengahnya (500 mm²). Bila demikian, hitungannya kita balik menjadi

500 mm² : π

= 500 : 3,1415926535897932384626433832795

= 159,15494309189533576888376337251

Akar dari 159,15494309189533576888376337251 adalah jari-jari lensa tersebut, yakni 12,615662610100800241235747611828 mm

Dari sini didapat angka 25,231325220201600482471495223657 mm sebagai diameter. f/stop lensa yang bersangkutan adalah

50 mm : 25,231325220201600482471495223657

= f/1,9816636488030055066725143825606

Pertanyaannya sekarang adalah, muatkah sederetan angka tersebut untuk dituliskan di atas gelang diafragma yang lebarnya imut-imut itu? Lagipula bukankah sudah sangat nyata sekarang bahwa sebenarnya f/1,98 dan seterusnya itu sudah sangat mendekati f/2?

Kita lanjutkan dengan bukaan diafragma berikut, yakni f/2,8 sekalian untuk menunjukkan lebih jauh tentang pembulatan dan kompromi tadi.

Diameter virtual lensa 50 mm pada f/2,8 adalah

50mm : f/2,8 = 17,85 mm

(dari 17,857142857142857142857142857143)

Jari-jarinya adalah 17,85 : 2 = 8,925 mm

Luas permukaannya :

π x 8,925²

= 3,1415926535897932384626433832795 x 79,655625

= 250,2455263171034740305158978472 mm²

Atau 250 mm². Uhapir setengahnya dari luas permukaan sebelumnya dan seperempat dari luas permyukaan pada diafragma f/1,4.

Dengan rumus tadi, luas permukaan pada f/4 adalah

122,71846303085129837744700715936 mm² (dibulatkan menjadi 123 mm² sekali lagi hampir setengah dari sebelumnya)

Luas permukaan lensa dari satu diafragma ke diafragma yang lain berkisar kurang lebih setengah (bila dikecilkan) atau dua kali lipat (bila dibesarkan) dari nilai sebelumnya.

Dalam hubungannya dengan kecepatan rana, cukup jelas tampaknya bahwa dengan mengurangi volume cahaya setengahnya (-1 stop) otomatis membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama (+1 stop), dan sebaliknya, dengan menggandakan volume cahaya, waktu yang dibutuhkan juga menjadi lebih cepat dua kali lipat.

Lalu, tahukah anda bahwa terdapat beberapa versi mengenai arti sebenarnya dari f/stop?f/stop (f kecil) dapat berarti salah satu di bawah ini.

  1. singkatan dari fenestra (latin) yang berarti “jendela” (diartikan bahwa bukaan difragma membentuk “jendela” bagi cahya untuk masuk melalui lensa).

  2. Singkatan dari function (fungsi) atau fraction (pecahan)

  3. Simbol dari focal length (panjang fokus) dibagi diameter bukaan (aperture)

  4. Dari seorang fotografer legendaris (ansel adams) yang merasa bentuk huruf  ‘f’ untuk bukaan diafragma lebih “indah” dan “nyeni” dari penulisan standar amerika yang sempat populer di awal abad 20 lalu (misalnya, U.S. 1 untuk f/4, U.S.4 untuk f/8, dan seterusnya).

Manapun yang anda percayai, jelasnya kata “stop” melambangkan pergeseran satu bukaan diafragma ke diafragma lain yang memiliki titik henti pada gelang pengatur.

Mitologi Warna

May 7th, 2008 by f3ndee

Seberapa sering anda melihat laki-laki berpakaian warna pink, atau barangkali seorang dokter dengan pakaian serba hitam saat bertugas di rumah sakit. Konon bayi yang baru lahir juga tidak boleh tidur diruang yang temboknya dicat serba hitam. Sebaliknya seorang Dedy Cobuzier rela menyiksa diri dengan dandanan aneh dan pakaian serba hitam. Seorang wanita akan terlihat lebih seksi apabila memakai pakaian merah. Sementara itu seorang petualang rela tidak ganti pakaian berhari-hari agar bisa tetap memakai rompi coklatnya.

Dari beberapa contoh di atas maka tentunya dapat disimpulkan kalau warna bukan hanya berkaitan dengan estetika saja, tetapi melaui warna manusia juga mencoba untuk mengkomunikasikan sesuatu. Setiap warna dapat menimbulkan suatu persepsi tertentu. Bahkan apabila dikombinasikan dengan atribut lain warna bukan hanya menimbulkan persepsi dan citra tertentu, warna akan akan semakin menguatkan suatu “symbol” tertentu seperti keagungan, kematian, kehidupan dan lain-lain.

Warna merupakan suatu bahasa yang disembunyikan. Pertama, Warna bisa mewakili usia tertentu, misal saja warna-warna remaja yang cenderung bernuansa cerah dan memiliki saturasi tinggi, sebaliknya warna yang mewakili usia dewasa cenderung lebih gelap dan memiliki saturasi rendah. Kedua, warna bisa mewakili suasana hati misalnya orang yang berduka seringkali memakai pakaian dan kerudung hitam, sedangkan orang yang sedang bersukacita cenderung memakai pakaian bercorak putih atau warna-warna cerah seperti pink, kuning, oranye. Ketiga, Warna bisa menunjukkan kepribadian, warna selalu dikaitkan dengan kepribadian. Dalam film kita selau melihat jagoan-jagoan memakai kostum merah, seperti Spiderman dan Superman, walau sebenarnnya warna kostumnya sengaja disamakan dgn bendera Amerika untuk menumbuhkan rasa patriotik dan nasionalisme pada perang dunia 2, warna merah mempunyai sifat berani dan semangat yang tinggi. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah seorang yang suka memakai warna kuning cenderung memiliki sifat percaya diri. Keempat, Warna untuk menunjukkan status sosial tertentu. Orang orang di kalangan ekonomi menengah atas memakai pakaian yang memiliki corak warna keemasan. Atau warna-warna yang memiliki sifat berkilau seperti warna silver dan putih. Sebaliknya orang-orang kalangan bawah cenderung memakai pakaian dengan warna-warna kusam yang gelap dan kecoklatan. Kelima, Warna bisa menunjukkan orientasi seksual dan jenis kelamin. Seorang metroseksual menandai diri dengan memakai pakaian dengan warna-warna saturasi tinggi dan memakai banyak atribut warna dalam pakaiannya. Selain itu warna maskulin adalah biru tua dan warna feminim adalah pink. Keenam, Warna sebagai penunjuk waktu. Survai membuktikan kalau apabila diruang kerja didominasi warna-warna panas (kuning, oranye, merah) maka waktu rasanya semakin sepat berlalu, akibatnya kita seringkali terburu-buru. Sebaliknya jika ruang kerja yang didominasi warna dingin (hijau, biru, ungu) waktu terasa lebih santai dan enjoy. Warna klasik seperti coklat dapat memberi suasana masa lampau, sedang warna silver bisa memberi suasana futuristik.

Hanya saja sejak kecil kita sudah dipaksa bahkan “diperkosa” untuk mendefinisikan warna secara gegabah tanpa memperhitungkan proses semiosis antara penanda menjadi petanda atau sebaliknya. Misalnya saja warna bendera Indonesia, Merah berarti berani dan putih berarti suci. Padahal merah bisa juga berarti gairah dan seksualitas, sedangkan putih bisa juga berarti kebahagiaan dan kejujuran. Satu contoh tersebut kita dihadapkan dalam sifat ambigu dari warna, karena satu warna bisa mempunyai banyak sekali arti.

Ada beberapa hal yang membuat warna sulit didefinisikan karena sifat warna yang komplek. Pertama, eksistensi warna. Jumlah warna sebenarnya tidak terbatas karena setiap warna bisa dicampur dan memiliki saturasi dan value yang berbeda. Oeh karena itu perlu kita batasi yang dimaksud warna disini adalah warna “awam”, artinya yang dimaksud dengan merah adalah merah yang kebanyakan orang sepakati. Merah memiliki rona warna lain tetap kita “anggap” sebagai merah. Kedua, sifat ambigu dari warna. Ambigu disini adalah sifat multi tafsir dari warna. Misalnya warna hitam bisa berarti kematian, kejahatan, kedukaan dll. Bahkan sifat multi tafsir dari warna bisa sangat berlawanan misalnya saja hitam bisa juga berarti elegan apabila diaplikasikan pada mobil sedan. Ketiga, sifat warna yang arbitrer. artinya warna semata-mata bersifat konfensi dan sewenang-wenang tanpa ada penjelasan ilmiah dan subtansial. Misalnya dari dulu kita mengenal arti merah dari bendera RI adalah berani. Tanpa tahu bagaimana proses pendefinisian dari merah menjadi berani. Hal tersebut karena semata-mata semua orang mengatakan warna merah berarti berani. Kempat, definisi warna yang spekulatif. Karena definisi warna seringkali tidak memiliki pertanggung jawaban ilmiah, maka seringkali kita mendefinisikan secara spekulatif sesuai dengan feeling yang kita rasakan ketika melihat warna tersebut. Misalnya ketika kita sedang berduka atau patah hati, setiap warna yang kita lihat bisa memiliki arti kematian atau putus asa. Di sini kita dihadapkan pada persepsi orang bisa berbeda terhadap warna Karena adanya pengalaman tertentu. Kelima, sifat dinamis warna yang sesuai dengan kultur, waktu dan tempat. Warna merah di cina bisa memiliki arti yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Seperti halnya warna putih pada jaman renaisans bisa berbeda arti pada jaman sekarang. Hal tersebut dikarenakan konfensi tentang warna ditempat dan waktu yang berbeda bisa berlainan.

Ambiguitas dalam warna bukan berarti membuat warna menjadi tidak “terdefinisikan”. Sifat-sifat chaos pada warna tentunya bukan tanpa sebab. Karena ada banyak simbol yang tidak bisa diwakili oleh warna tertentu. Misalnya saja oranye berarti segar atau fresh. Warna oranye tersebut tidak bisa digantikan dengan warna hitam ataupun warna merah. Seorang laki-laki macho berotot dan berkumis tetap akan terlihat seperti bencong apabila memakai pakaian pink, disini kita dapat menyimpulkan bahwa maskulinitas tidak mungkin dapat kita definisikan pada warna pink. Sebabnya adalah:

1. Warna telah diasosiasikan pada suatu benda tertentu.
Asosiasi disini adalah warna diidentikan pada benda tertentu. Misalnya warna kuning pada matahari. Oleh karena itu warna kuning bisa diartikan kehangatan, kepercayaan diri, keindahan, keangkuhan dll. Warna hitam tidak bisa mewakili definisi segar karena segar diasosiasikan pada laut yang warnanya biru muda, atau pada jeruk yang warnanya oranye.

2. Sifat arbriter yang terlalu kuat.
Sifat arbriter yang terlalu kuat dan sejak lama melekat dalam masyarakat dapat membuat definisi warna menjadi “seakan-akan” ilmiah. Karena dulu warna merah berarti/diartikan berani dan putih berarti suci, maka demikianlah jadinya. Karena masyarakat tidak bisa menemukan kajian untuk mendukung maupun menolak definisi tersebut.

3. Warna hanya penguat citra jargon/atribut.
Mendefinisikan warna tidak bisa dilakukan dengan cara melihat warna yang berdiri sendiri. co. kotak polos berwarna hitam tidak akan bisa diartikan apapun, sedang warna hitam yang dipakai oleh orang yang sedang menangis di sebelah kuburan sangat bisa menguatkan arti dari dukacita. Warna hitam pada HP dan mobil bisa menguatkan kesan elegan dan mewah. Hal tersebut dikarenakan warna “hanya” sebagai penguat saja. Sedang element yang dominan adalah jargon dan atribut yang menyertainya, dalam kasus diatas adalah orang menangis, HP dan Mobil. Untuk mendefinisikan warna sebagai penguat citra dan persepsi tentunya berawal dari mendefinisikan atribut/jargon dahulu. Dalam aplikasi dan proses semiosisnya definisi warna tetap mengacu pada 2 point diatas yaitu asosiasi dan arbriter.

Dalam “Mithologies” karya Roland Barthes kita diperkenalkan pada mitos-mitos benda. Misalnya kacamata sebagai sesuatu yang menandakan kejeniusan, ketekunan dan formalitas. atau celana sobek sebagai petanda anti kemapanan dan anti formalitas. Mitos dalam “Mythologies” tersebut tidak berpretensi untuk menentukan yang baik dan yang buruk. Namun semata-mata sebagai bahasa yang disembunyikan (hidden linguist). Demikian juga dengan warna, karena mitos warna tidak bisa dibahas secara eksakta. Seorang pria berpakaian pink belum pasti dia merupakan seorang pria yang mempunyai orientasi seksual sesama jenis. Namun paling tidak pencitraannya bisa demikian. Mengacu pada pengertian semiotikanya Umberto Eco yaitu semiotika merupakan ilmu untuk mendustai. Warnapun seringkali dipakai untuk mendustai misalnya : Joni memakai pakaian serba hitam, rambut gondrong, celana ketat dangan tato sekujur tubuh untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya seorang preman. padahal preman atau tidak sebetulnya bisa dilihat dari perbuatannya bukan penampilannya. Namun karena citra visualnya begitu kuat seringkali dia berurusan dengan polisi setiap kali ada kasus pemalakan.

* Sedemikian hebatkah warna mempengaruhi persepsi kita?
* Mampukah warna mendustai kita, karena warna mampu mengaburkan citra dari segala sesuatu yang kita lihat ?
* Warna…warna…warna…..apa sih menariknya?

Addicted to everyone who know me

August 22nd, 2007 by f3ndee

satu kata telah patah sebelum ditulis
patah bukan karna tiada asa
untuk mewujudkan atau memimpikannya

namun memang ada beda dalam tiupan udara
ada beda dalam setiap mimpi
dan ada beda dalam setiap langkah

perbedaan yang mebuat manusia menuju mata angin
yang berlainan
untuk kemudian kembali bersinggungan

satu hati satu rasa
adalah satu mimpi yang panjang

satu keinginan
tuk menyatukan langkah ditiap penjuru ruang

sebuah makna tuk membalut PERBEDAAN
yang ada hanya
alunan rasa dari setiap hati anak manusia
demi mengungkap kidung cinta sang pengasih

GiiiiLLLLLaaaa…

July 30th, 2007 by f3ndee

gilllllaaaa…. sedari jam 5 sore smp jam 5.30 pagi ni aku di depan monitor (melotot ke mato)..cak dak abis2 pulok foto itu nak edit, gara2 cak kebanyak’an job moto, jadi ft2 klien yg kmrn2 dak sempet2 di selasaike, jadinyo numpuk galo tugas..
mano big boss minta jam 12 siang ini deadline cetaknyo…mampus nian dah..!!
untunglah dak manggung ‘pms…
tp, luso, rabu,kemis,jum’at & minggu la moto lagi…sanggup dak aku mikir utk moto biar bagus hasilnyo..aku takut dak mood……..=(
mati nian,,,lokak di plisike wong ini….
la 1minggu dak balek2 kerumah,, kangen mamaaaaaaaaaaaaaa…….

Cinta….

July 15th, 2007 by f3ndee

Cinta…..

Kenapa kita menutup mata
ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Ketika kita berciuman?
Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat….

Kita semua agak aneh… Dan hidup
sendiri juga agak aneh…
Dan ketika kita menemukan seseorang
yang keunikannya sejalan dengan
kita..
Kita bergabung dengannya dan jatuh ke
dalam suatu keanehan serupa
yang dinamakan
CINTA..

Ada hal2 yang tidak ingin kita
lepaskan..
Orang2 yang tidak ingin kita
tinggalkan…
Tapi ingatlah…
melepaskan bukan akhir
dari dunia,
melainkan awal suatu kehidupan
baru…

Kebahagiaan ada untuk mereka yang
menangis,
mereka yang tersakiti,
mereka yang telah
mencari…
dan mereka yang telah
mencoba..
Karena merekalah yang bisa
menghargai
betapa pentingnya orang yang telah menyentuh
kehidupan mereka….

CINTA yang AGUNG?
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan
masih peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu
dan kamu masih menunggunya
dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum
sambil berkata: "Aku
turut berbahagia untukmu"

Apabila cinta tidak berhasil…
BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan
sayapnya dan terbang ke alam
bebas LAGI…

Ingatlah…bahwa kamu mungkin
menemukan cinta dan
kehilangannya..
Tapi..ketika cinta itu mati..
kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…

Orang terkuat bukan mereka yang selalu
menang..
Melainkan mereka yang tetap
tegar ketika mereka
jatuh.

Entah bagaimana…dalam
perjalanan kehidupan,
kamu belajar tentang dirimu sendiri..
dan menyadari bahwa penyesalan
tidak seharusnya ada.
Hanyalah penghargaan abadi
atas pilihan2 kehidupan
yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI…Mengerti ketika kamu
berkata ‘Aku lupa..’
Menunggu selamanya ketika
kamu berkata’Tunggu
sebentar’
Tetap tinggal ketika kamu
berkata: "Tinggalkan aku sendiri"
Membuka pintu meski kamu belum mengetuk
dan berkata: "Bolehkah saya masuk?"

MENCINTAI…
Bukanlah bagaimana kamu
melupakan..melainkan bagaimana kamu
MEMAAFKAN..
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan..
melainkan bagaimana kamu MENGERTI..
Bukanlah apa yang kamu lihat..melainkan apa
yang kamu RASAKAN..
Bukanlah bagaimana kamu
melepaskan..melainkan bagaimana kamu
BERTAHAN..

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam
hati…
dibandingkan menangis tersedu2..
Air mata yang keluar dapat dihapus..
sementara air mata yang tersembunyi
menggoreskan luka yang tidak akan pernah
hilang..

Dalam urusan cinta, kita sangat jarang
menang..
Tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kalah,
kamu tetap menang hanya karena kamu
berbahagia dapat mencintai seseorang..
lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri..

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti
mencintai seseorang.
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita,
Melainkan karena kita menyadari bahwa orang
itu akan lebih berbahagia apabila
kita melepaskannya…

Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan
lepaskan dia..
jangan percaya bahwa melepaskan selalu
berarti kamu benar2 mencintai melainkan
Berjuanglah demi cintamu.
Itulah Cinta Sejati…

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang
‘yang tersedia’
Lebih baik menunggu orang yang kamucintai
Daripada orang yang berada
disekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat karena
hidup ini terlalu singkat untuk
dibuang hanya dengan ’seseorang’…

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang
yang Paling menyakiti hatimu
dan kadang kala,
teman yang membawamu ke dalam pelukannya
dan menangis bersamamu adalah cinta
yang tidak kamu sadari…..

Cariin tukang Editingnya Dooonkkk !!

July 3rd, 2007 by f3ndee

hmmm.. udh 3 hari ini ogut tidur jam 6 pagi terus.

agghh.. gilo bae, kuat sekali mataku yah… padahal udh hampir 1700 foto udah aku liatin, /foto kira2 2mnt aku koreksi setiap detil dan warnanya.. klo istilahnya ngedit gitu deh…

masih pula ditelpon sama mbak ana, klo bbrp klien ada yg mesti ditambahin lagi file fotonya, ampunnnn… kayaknya gak abis2 deh kerjaan ogut…

belum lagi lusa, ogut mesti kerja lagi buat studio sndri, 3 hari full liputan.. nah lho… mampus dak ogut dibuatnyo….

udh, motret…milih, ngedit lagi, ngedesign..trus nyetakin, trus nempelin ke albumnya…

Tooolllloooooooooonggg..!!  [ cARiin dong yang tukang ngedit, biar bisa tidur nyenyak ] 2 minggu lagi kyk gini terus… tambah cungkring nih body…positif !!

atauu… klo ada ‘neng’ yang mau nemenin ogut sambil ngedit… yuukkkk!! mariii… :]p

hehehe…

:: True To My Self ::

August 13th, 2006 by f3ndee

 
   

Life has come a long way since yester day
And it’s not the same old thing over again
Just do what you feel and don’t you fool yourself
Cause I can’t make you happy unless I am

I’ve got to be true to myself…

They’re in they’re out, I’ve asked many questions
Only to find the truth it never changes
If you don’t deal with it, it keeps killing you a little by little
Call me selfish if you will, my life I alone I can live

I’ve got to be true to myself…

I don’t care if it hurts
I’m tired of playing all these games
I’ve reached a point in life
Hey, no longer can I be this way
Don’t come crying to me
I too have shed my share of tears
I’m moving on, yes I’m grooving on
Hey, well I’m finally free

I’ve got to be true to myself…